Penyerangan terhadap Taliban di Afghanistan Timur Tewaskan 5 Orang, Berlanjut Pengeboman Kendaraan

Terjadi serangan kepada Taliban di Jalalabad, Afghanistan Timur, pada Rabu (22/9/2021). Serangan itu mengakibatkan lima orang tewas, dua prajurit, dan tiga warga sipil. Dilansir , orang orang bersenjata melepaskan tembakan ke kendaraan Taliban di sebuah pompa bensin lokal di ibu kota provinsi Jalalabad.

Serangan itu menewaskan dua prajurit dan seorang petugas pompa bensin, kata saksi mata. Sementara, dua lainnya adalah anak anak. Kemudian, terjadi pengeboman kendaraan yang menyebabkan Taliban terluka.

Pengeboman lain terhadap kendaraan Taliban di Jalalabad juga melukai seseorang. Namun, tidak diketahui pasti orang itu anggota Taliban atau warga sipil. Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab langsung atas serangan pada hari Rabu itu.

Kelompok Negara Islam yang bermarkas di Afghanistan timur mengatakan, terjadi serangan serupa di Jalalabad pekan lalu yang menewaskan delapan orang. Taliban dan ISIS adalah musuh, dan serangan itu telah meningkatkan ketakutan akan konflik yang lebih luas antara penguasa baru Taliban dan saingan lama mereka. Taliban berada di bawah tekanan untuk menahan militan ISIS.

Selain itu juga untuk memenuhi janji kepada masyarakat internasional bahwa mereka akan mencegah serangan teror dari tanah Afghanistan. Meskipun sebelumnya telah dijanjikan keadilan dan menjunjung tinggi hak hak perempuan, Taliban justru membatasi perempuan. Ia menetapkan semua pemerintahan diambil alih oleh laki laki.

Langkah langkah itu mengingatkan kembali pada pemerintahan Taliban sebelumnya di Afghanistan pada akhir 1990 an, ketika mereka memberlakukan interpretasi keras mereka terhadap hukum Islam, atau Syariah. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa sistem kesehatan Afghanistan berada di ambang kehancuran dan perlu dilakukan tindakan darurat. Pernyataan itu menyusul kunjungan WHO Ke Kabul yang dipimpin oleh direktur jenderal badan tersebut, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Mereka bertemu dengan para pemimpin Taliban dan lainnya. “Negara ini akan segera menghadapi bencana kemanusiaan,” bunyi pernyataan itu. Afghanistan tidak memiliki dana fasilitas kesehatan untuk pasokan medis dan menggaji staf kesehatan.

“Banyak fasilitas yang sudah tidak beroperasi atau ditutup, memaksa penyedia layanan kesehatan membuat keputusan sulit tentang siapa yang harus diselamatkan dan siapa yang harus mati,” kata WHO. WHO juga menekankan perlunya perempuan untuk mempertahankan akses ke pendidikan, perawatan kesehatan, dan tenaga kerja kesehatan. Koordinator bantuan PBB, Martin Griffiths, mengeluarkan $45 juta dalam bentuk bantuan penyelamatan jiwa dari dana darurat PBB, Rabu (22/9/2021).

"Membiarkan sistem pengiriman perawatan kesehatan Afghanistan berantakan hanya akan menjadi bencana," kata Griffiths. “Orang orang di seluruh negeri akan sulit mendapatkan perawatan kesehatan primer seperti operasi caesar darurat dan perawatan trauma,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.